Close Menu
Jelajah Sport
  • Home
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
  • Kontak Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
Jelajah Sport
  • Home
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
  • Kontak Kami
Facebook Instagram YouTube
Jelajah Sport
Home»Event Sebelumnya»Kembali ke Sabang Demi Nasionalisme
Event Sebelumnya

Kembali ke Sabang Demi Nasionalisme

Jelajah SportBy Jelajah SportApril 5, 2026
Facebook WhatsApp Twitter Pinterest Threads LinkedIn Email Telegram Tumblr

Pada HUT ke-79, Kemerdekaan RI tahun 2024, kami kembali lagi ke Sabang dengan bersepeda dari Banda Aceh. Kali ini penyelenggaranya adalah Jelajah Bike, perusahaan yang menangani event touring dan balap sepeda yang berkedudukan di Jakarta. Pesertanya hanya 40 orang. Semuanya dari Jakarta , Bandung dan kota lain di sekitarnya.

Kamis, 15 Agustus 2024 siang, semua peserta sudah tiba di Banda Aceh. Kedatangan ini menggunakan maskapai berbeda. Ada yang naik pesawat Garuda Indonesia. Ada pula Batik Air dan Citilink. Setelah berada di hotel, sebagian langsung menyetel sepedanya. Tapi ada pula yang menjajal kuliner Aceh, antara lain mie Aceh dan ayam tangkap.

Ayam tangkap adalah ayam yang dipotong kecil dimarinasi dengan bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, serai, garam dan merica. Setelah itu digoreng dan diberi tambahan daun kari, daun pandan, daun dalam koja dan cabe hijau. Penyajiannya dengan tumpukan daum rempah sehingga memberi aroma yang menggugah selera. Tekstur dagingnya empuk dan renyah.

“Saya setiap kali ke suatu daerah selalu mencoba kuliner lokal. Begitu pula saat mau ke Aceh, beberapa hari sebelumnya sudah mencari informasi tentang kuliner khas Aceh. Salah satu yang direkomendasikan adalah ayam tangkap. Setelah mencoba ternyata enak. Enak banget,” kata Yoke Haulani Latif, pesepeda asal Kelapa Gading, Jakarta.

Sore itu, kami melakukan City Ride, mengunjungi Museum Tsunami dan Kapal PLTD Apung atau kapal generator listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Gampong Punge Blang Cut. Kapal ini terbawa tsunami sejauh lima kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue. Kapal tersebut menjadi saksi bisu tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, dan museum. Bahkan menjelma menjadi salah satu obyek wisata tsunami di Banda Aceh.

Menuju Pulau Weh

Jumat, 16 Agustus 2024, sekitar pukul 06.00 WIB, semua peserta sudah bersiap diri di depan penginapan. Hotel tersebut berada persis di depan lapangan Blang Padang. Setelah melakukan pengecekan terakhir, pukul 07.00 WIB, kami mulai mengayuh sepeda menuju ke Pelabuhan Ulee Lheue. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, kami pun sudah tiba di pelabuhan.

Sesuai jadwal, waktu pelayaran kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh ke Pelabuhan Balohan Sabang sehari tiga kali, yakni pukul 08.00, pukul 10.00 dan pukul 16.30 WIB. Sedangkan keberangkatan dari Sabang ke Banda Aceh juga tiga kali yakni pukul 08.00, pukul 14.30 dan pukul 16.30 WIB. Jadwal ini sewaktu-waktu dapat berubah tergantung kondisi cuaca. Kecepatan kapal rata-rata 26 knot dengan kapasitas penumpang 178 orang.

Harga tiket untuk kelas VIP sebesar Rp 125.000 per penumpang dewasa, dan anak berusia 4-10 tahun Rp 110.000 per orang. Untuk tiket kelas eksekutif penumpang dewasa senilai Rp 100.000 per orang, dan anak-anak Rp 85.000 per orang. Penumpang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Sabang mendapatan potongan harga untuk tiket eksekutif yakni dewasa Rp 65.000 per orang dan anak-anak Rp 55.000 per orang.

Tidak lama setelah berada di pelabuhan, petugas meminta kami segera menaikkan sepeda ke dalam kapal ekspres dan menyusun pada dek belakang di lantai satu. Sesudah itu, disusul penumpang. Tepat pukul 08.00 WIB, kapal mengangkat sauhnya dari dasar laut dan berlayar menuju Pulau Weh. Penumpang yang terangkut mencapai kurang lebih 75 persen.

Ivan Taruna, warga Aceh mengaku mobilitas masyarakat dari Banda Aceh ke Sabang atau sebaliknya tergolong tinggi. Bayangkan, tiga kapal cepat yang melayani pergi-pulang memiliki kapasitas 178 orang per kapal. Keterisian penumpang rata-rata di atas 70 persen. Penumpang tidak hanya warga setempat, tetapi juga para pegawai kantor pemerintah dan swasta yang hendak melakukan kunjungan kerja, serta wisatawan. Mungkin kapal cepat ini adalah satu-satunya angkutan penumpang sehingga tampaknya begitu banyak. Memang ada juga kapal fery, tetapi umumnya untuk angkutan kendaraan bermotor.

Pelayaran kami siang itu sangat lancar dan kondusif. Sama sekali tidak ada ombak. Selama pelayaran tampak pula kapal cepat dan kapal fery yang sedang berlayar dari arah berlawanan, yakni dari Sabang ke Banda Aceh. Tepat pukul 08.45 WIB, kapal yang kami tumpangi merapat di Pelabuhan Balohan Sabang.

Kami diminta menunggu di dermaga untuk menerima sepeda masing-masing saat panitia menurunkan dari dalam kapal. Setelah semuanya komplit, kami bergerak keluar dari komplek dermaga menuju ke titik kumpul, dekat terminal penumpang. Di sana, sudah menunggu tujuh pemuda Sabang yang akan membantu mengurusi logistik dan keperluan lain selama mengayuh sepeda di Pulau Weh.

Sekitar pukul 09.35 WIB, kami mulai mengayuh sepeda meninggalkan pelabuhan dan bergerak ke arah utara. Kurang lebih 500 meter di depan, perjalanan berbelok ke kanan atau arah timur laut menuju Bukit Balohan. Ketinggian bukit tersebut sekitar 250 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tanjakan ini hanya sekitar 1,5 kilometer, tetapi memiliki kemiringan berkisar 14-20 derajat sehingga cukup mengurasi energi dan bikin megap-megap. Di puncak bukit tampak panorama Teluk Balohan dengan latak belakang perbukitan dan hamparan laut biru.

Selepas bukit, kami melewati jalan turunan cukup panjang ke arah utara, menyusuri pantai melewati kawasan Anoi Itam. Tantangan terberat siang itu adalah menghadapi suhu udara mencapai 35 derajat celcius. Sejumlah peserta terpaksa memilih berteduh sejenak di beberapa lokasi yang nyaman. Dua kilometer menjelang pusat Kota Sabang, kami berhenti untuk makan siang dan sholat jumat bagi yang melaksanakan.

Kami melanjutkan lagi perjalanan pada pukul 13.30 menuju kawasan Pantai Iboih. Sempat melewati pusat Kota Sabang yang memiliki cukup banyak pohon besar nan rindang. Kayuhan terus melaju. Tampak beberapa pedagang menjual buah durian. Sebagian peserta memilih berhenti untuk menikmati buah durian Sabang. Durian ini lumayan enak. Ada yang berbuah kecil, tetapi memiliki daging berwarna kuning dan tebal.

Setelah melewati kota, perjalanan mulai menghadapi tanjakan dan turunan yang silih berganti. Jalur ini tidak jauh dari pesisir pantai, dan melewati kawasan hutan lindung dengan pohon-pohon yang tinggi. Rumah penduduk pun cukup jarang. Jalan raya beraspal mulus, dan jarang dilewati kendaraan.

Lima kilometer menjelang wilayah Iboih tampak permukiman warga. Perkampungan-perkampungan ini cukup maju. Warga setempat umumnya memiliki rumah permanen. Di tepi pantai tampak pula penginapan-penginapan untuk wisatawan. Ada sejumlah wisatawan asing, terutama Eropa dan China sedang berlibur untuk menikmati keindahan bawah laut.

Pukul 16.00 WIB, semua peserta sudah tiba di lokasi penginapan di Pantai Iboih, persisnya di kawasan Teupin Layeu. Wilayah ini memang menjadi sentra penginapan bagi wisatawan. Laut tenang, bersih dan jernih. Di sana, berdiri cukup banyak hotel kelas melati milik warga setempat. Setiap hotel memiliki belasan kamar dengan ukuran bervariasi yang bersih dan dilengkapi pendingin ruangan. Ini adalah kali kedua saya menginap di kawasan itu. Pertama kali pada Agustus 2019.

Kawasan Wisata Iboih

Di depan Pantai Iboih ada sebuah pulau kecil, bernama Rubiah. Jaraknya sekitar 100 meter. Pulau ini tidak berpenghuni. Tetapi di sana tersedia café dan restoran yang khusus melayani wisatawan yang dikelola warga yang tinggal di Pantai Iboih. Tersedia perahu-perahu kecil yang melayani pengangkutan ke pulau tersebut. Dengan perahu yang sama juga para wisatawan akan mengelilingi pulau untuk menyaksikan keindahan terumbu karang dengan beragam ikan hias.

“Wisatawan asing selalu datang berlibur di Sabang. Lokasi favorit untuk menginap adalah kawasan Pantai Iboih. Lokasinya aman, nyaman, dan sejuk karena dekat dengan hutan lindung. Aktivitas mereka selama berlibur di Sabang umumnya diving. Ada sekitar 20 spot terumbu karang yang bagus,” jelas Azhar, pengemudi mobil travel di Sabang.

Dari Pantai Iboih, wisatawan juga dapat menggunakan perahu yang lebih besar untuk menyaksikan aktrasi ikan lumba-lumba (dolphin). Lokasi penampakan dolphin sekitar satu jam pelayaran dari Pulau Rubiah. Ongkos perahu untuk penumpang 1-7 orang seharga Rp 800.000 per unit, penumpang 8-12 orang biayanya Rp 1,2 juta per perahu dan penumpang 13-20 orang sebesar Rp 1,8 juta per perahu. Menonton ikan lumba-lumba hanya pada pagi hari sebelum pukul 08.30 WIB. Cuaca pagi hari selalu bagus dan cerah. Sore hari biasanya sekitar pukul 16.00 WIB.

Sabtu, 17 Agustus 2024, pukul 06.00 WIB, semua peserta sudah selesai sarapan pagi dan mulai bersiap diri di tepi pantai. Saya sebagai pimpinan perjalanan memberikan arahan tentang rencana kegiatan hari itu, terutama perayaan HUT ke-79 Kemerdekaan RI di Tugu Nol Kilometer. Kami juga sempat mengingatkan kembali untuk mengecek semua barang di kamar masing-masing.

Setelah semuanya beres, perjalanan menuju tugu dimulai. Keluar dari penginapan langsung menghadapi tanjakan sekitar 50 meter dengan kemiringan mencapai 15 derajat untuk menuju ke jalan utama. Beberapa peserta sepertinya tidak siap sehingga terpaksa menuntun sepedanya di tanjakan tersebut hingga puncak.

Selepas tanjakan langsung melewati jalan turunan yang cukup panjang disusul jalan mendatar, menanjak lagi kemudian turunan hingga memasuki kawasan Tugu Nol Kilometer. Jalan menuju titik terbarat Indonesia itu berada tengah rimbunan hujan seolah menambah kesejukan pagi itu. Kami berjumpa dengan komunitas motor vespa yang ingin ke tugu untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI. Mereka berjumlah 20 orang.

Begitu tiba di Tugu Kilometer Nol, kami langsung kegirangan dan mengeluarkan telepon seluler masing-masing untuk memotret obyek-obyek yang ada. Tidak ketinggalan berswafoto dengan latar belakang tugu. “Rasanya sangat bahagia berada di tugu bersejarah ini. Tidak pernah terbayangkan saya datang ke sini dengan cara mengayuh sepeda. Senang banget pokoknya,” ujar Angela Pipin, pesepeda asal Jakarta.

Sekitar pukul 08.15 WIB, kami mulai mengatur persiapan untuk melakukan upacara bendera memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan RI. Tim Jelajah Sabang mengajak komunitas vespa untuk terlibat bersama. Kami dibantu dua prajurit TNI yang bertugas di kawasan itu. Ada tiga orang dari pesepeda dan komunitas vespa sebagai tim pembawa dan pengawal bendera merah putih. Bendera merah putih sudah terpasang pada tiang dengan panjang 1,5 meter yang dibawah perwakilan pesepeda. Mereka mengambil posisi di samping tugu.

Rayakan HUT RI

Di bawah tugu berdiri para peserta upacara bendera yang berjumlah sekitar 60-an orang. Sebagai pemimpin upacara dan pemimpin barisan adalah prajurit TNI. Setelah semua dalam posisi siap, ketiga orang pembawa dan pendamping bendera merah putih bergerak ke depan tugu dan menghadap ke arah peserta. Tidak lama kemudian semua menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan dirigen Yoke Haulani Latif, perwakilan pesepeda.

Semua peserta begitu bersemangat menyanyikan lagu Indonesia. Tak ada sambutan. Setelah selesai, pembawa bendera merah putih kembali ke tempatnya, komandan upacara menyatakan upacara telah selesai. Semua dengan spontan saling bersalaman dan bersama-sama menyanyikan sejumlah lagu perjuangan seperti Padamu Negeri, dan Satu Nusa Satu Bangsa, kemudian ditutup dengan foto bersama.

“Saya sedikit merinding ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ada rasa bahagia bercampur haru. Mungkin karena suasana sederhana yang jauh dari kemeriahan, lokasi yang sepi tapi menjadi titik yang strategis dalam kewilayahan negeri kita. Nasionalisme saya agak bergelora,” jelas Krishna Iskandana dari Bandung.

Pukul 09.30 WIB, kami melanjutkan gowes kembali ke Banda Aceh. Rute pulang ini masih melewati jalan yang sama. Tetapi saat berada di pusat Desa Iboih, kami memilih belok ke kanan, arah barat daya melewati kawasan penyangga hutan lindung untuk selanjutnya menuju jalur selatan Pulau Weh. Rute ini relatif sepi dari kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor. Warga setempat menyebut wilayah itu dengan nama Balek Gunung.

Mula-mula masih ada rumah-rumah penduduk. Setelah itu mulai menghadapi tanjakan sekitar satu kilometer, lalu memasuki jalan mendatar sekitar satu kilometer. Kondisi jalannya masih beraspal mulus. Namun, setelah itu melewati jalan bertanah dengan sedikit perkerasan batu dan pasir sejauh kurang lebih 1,3 kilometer, kemudian masuk jalan dengan aspal mulus hingga pesisir barat daya. Dari sana, kami masih melewati jalan menanjak, menurun, lalu mendatar lagi selama beberapa kali hingga tiba di Pantai Pasir Putih di bagian selatan Pulau Weh. Pantai ini memang berpasir putih dan menjadi destinasi favorit warga di pulau tersebut. Kami beristirahat sejenak untuk makan siang.

Pukul 13.30 WIB, kami mengayuh sepeda lagi menyusuri bagian selatan pulau Weh. Sempat melewati lokasi permandian air panas Jaboi. Sumber air panas itu berasal dari Gunung Jaboi kemudian dialirkan menggunakan pipa khusus hingga ke lokasi permandian. Gunung yang aktif ini berada di Desa Jaboi, Kecamatan Sukajaya, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Sabang. Tersedia jalur trekking juga menuju ke puncak gunung.

Selepas itu, kami masih menghadapi jalan menanjak dua kali. Panjang hanya sekitar dua kilometer dengan kemiringan berkisar 15-17 derajat, tetapi terasa cukup berat dan menantang. Sebagian besar peserta tetap berusaha melewatinya dengan riang gembira dan sukacita. “(Tanjakan) Ini hadiah HUT Kemerdekaan jadi harus dinikmati sepuasnya,” ujar Mangdin, pesepeda asal Bandung.

Pukul 15.00 WIB, peserta terakhir tiba di Pelabuhan Balohan, Sabang. Kami masih memiliki waktu sekitar satu jam dan 15 menit untuk istirahat sejenak sebelum menaiki kapal cepat yang akan membawa menuju Banda Aceh pada pukul 16.30 WIB. Urusan tiket kapal pun berjalan lancar. Petugas di pelabuhan penuh antusiasme melayani kami.

Kedatangan kami di pelabuhan dari arah selatan ini menunjukkan bahwa mengayuh sepeda dua hari itu telah mengelilingi Pulau Weh, sebuah pengalaman yang menyenangkan, dan seru. Menarik lagi, hampir semua jalur jalan di Sabang beraspal mulus. Ini modal dasar untuk melancarkan perjalanan wisatawan.

Pulau ini memiliki beragam potensi wisata: Tugu Nol Kilometer, keindahan bawah, keindahan pesisir, tradisi budaya, kuliner, permandian air panas dan hutan alam, termasuk keramahan masyarakat.

Tepat pukul 16.30 WIB, kami pun meninggalkan Pulau Weh dan Kota Sabang. Kapal cepat yang mengangkut kami kembali ke Banda Aceh pun mengangkat jangkarnya. Selamat tinggal Sabang, sampai jumpa di lain kesempatan.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Leave A Reply Cancel Reply

Contact Me

CEO Building Lt 12
Jln TB Simpatupang No 18C
Cilandak, Jakarta Selatan 12340
info@jelajahsport.com
081188092607

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.